RFCI (Representational Of Force Concept Inventory)

Jumat, 28 November 2014

Kemampuan menginterpretasi berbagai representasi sangat diperlukan dalam pembelajaran fisika. Konsistensi dalam memahami konsep fisika menuntut pemahaman yang lebih mendalam. Kekonsistenan siswa akan membawa siswa ketingkat pemahaman yang lebih baik dalam melihat berbagai konsep-konsep fisika yang disajikan dalam berbagai permasalahan. Instrumen RFCI (Representational Of Force Concept Inventory) sangatlah cocok digunakan untuk mengevaluasi kemampuan pemahaman fisika.
RFCI merupakan tes dengan 9 tema yang berbeda mengenai konsep gaya. Dari setiap tema tersebut, dibuat menjadi 3 soal dengan konsep dan konteks yang dibuat semirip mungkin pada stamp-nya untuk setiap soal namun dengan pilihan alternatif (option) yang berbeda representasinya (tujuanya adalah untuk membentuk varian isomorphic) seperti menggunakan gambar, grafik, verbal, persamaan matematis, vektorial, dan lain sebagainya.
Contoh soal RFCI
Susi melakukan perjalanan dari tempat kedudukan A-B-C-D dan kembali lagi ke C seperti pada gambar dibawah ini. apa yang terjadi setelah Susi berhenti ke tempat C?

a.       Jarak dan perpindahan susi Sama
b.        Jarak dan perpindahan Susi Berbeda
c.        Jarak dan Perpindahan tidak mempengaruhi perjalanan susi
d.       Jarak saja yang mempengaruhi Perjalanan susi
e.        Perpindahan saja yang mempengaruhi perjalanan susi
Dalam Proses belajar, guru dituntut agar mela Dapat meningkatkan daya serap serta animo belajar siswa yang sangat fantastis sesuai petunjuk Permendiknas yaitu menggunakan sarana yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa yang tinggi serta menjadikan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Dalam upaya menerapkan RFCI ini dalam kegiatan belajar mengajar dikelas guru bisa memnafaatkan Camptasia Studio sebagai media untuk menjelaskan knsep fisika dari suatu fenomena. Misal untuk menjelaskan kejadian pada soal RFCI diatas guru bisa menggunakan video agar proses belajar lebih interaktif dan menarik perhatian siswa.
Penjelasan lebih lanjut menganai Camptasia Studio akan saya bahas pada post saya selanjutnya....

Terimakasih J

Tik Dalam Dunia Pendidikan


TIK mempunyani peran yang luar biasa dalam bidang pendidikan. Berbagai perangkat lunak seperti microsoft office atau OpenOffice memudahkan para pelajar dalam menegerjakan tugas, seperti laporan praktikum dan artikel, juga ketika mempresentasikan tugas di kelas.

Sistem pengajaran berbasis multimedia (teknologi yang melibatkan teks, gambar, suara, dan video) mampu membuat penyajian suatu topik bahasan menjadi menarik, tidak monoton dan mudah dicerna. Seorang murid atau mahasiswa dapat mempelajari materi tertentu secara mandiri dengan menggunakan komputer yang dilengkapi program yang berbasis multimedia. Dengan sentuhan teknologi komputer, berbagai pelajaran yang sering dianggap sulit, seperti fisika ataupun matematika, dapat disajikan dengan cara yang menarik sehingga siswa menyenangi sekaliugus memahaminya dengan lebih mudah. Teknlogoi berbasis flash biasa digunakan untuk keperluan ini. Bahkan yang namanya belajar bahasa asing pun bisa dilakukan dengan menggunakan komputer.

Sekarang ini sudah ada Sejumlah perangkat pendidikan modern ditampilkan PT Offistarindo Adhiprima dalam acara Indocomtech 2013 dengan tema Live in The Future berlangsung di Jakarta mulai 30 Oktober hingga 3 November 2013. Dalam pameran kali ini PT Offistarindo Adhiprima menampilkan Interactive Whiteboard, Leaner Respon System,  Interactive Display Monitor, Interactive Display Monitor, Visual Presenter, Integrated Notebook Sized Graphics, Portable Interaktive Presentation System.

Salah satu teknologi terbaru adalah Interactive Whiteboard Type Promethean ActivBoard 595 Pro Mobile System with EST Projector. Sebuah papan interaktif multi touch : pen dan sentuhan tangan (touch screen) yang kaya fitur, menggabungkan warna, gerak dan aktivitas suara yang terintegrasi dengan built-in speaker penguat suara stereo sebagai pendukung mata pelajaran. Terpasang pada stand board yang dapat diatur ketinggiannya secara elektrik (motorized height adjustable stand), dilengkapi gantungan proyektor serta proyektor tipe short throw. 

Dapat meningkatkan daya serap serta animo belajar siswa yang sangat fantastis sesuai petunjuk Permendiknas yaitu menggunakan sarana yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa yang tinggi serta menjadikan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

Sarana ini memungkinkan pelaksanaan proses belajar mengajar menjadi aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan bahkan dapat dilakukan kapan saja baik di dalam maupun di luar ruang kelas sehingga proses pembelajaran menjadi sangat produktif dengan hasil akhir akselerasi penyerapan materi belajar yang sangat cepat dan bermutu tinggi.

Alat ini tidak hanya mampu meningkatkan kualitas pendidikan para siswa tetapi juga mampu meningkatkan kualitas guru dalam mengajar. Informasi yang diperoleh dari PT Offistarindo Adhiprima menyatakan bahwa sejumlah Universitas Negeri/Swasta dan Pemerintahan/ Kementerian di Indonesia dalam beberapa tahun ini sudah mengunakan perangkat teknologi pendidikan seperti Interactive Whiteboard dan perangkat lainnya. 

Untuk peralatan canggih seperti ini tentu saja memiliki harga yang tidak murah. Ketika ditanyakan mengenai harga, Harry Lo dengan hati-hati menyatakan, “Dengan kondisi mata uang Rupiah saat ini perbuahnya bisa diperoleh dengan harga mulai Rp80 juta hingga Rp200 juta. Berbagai fasilitas pada Wihiteboard Interactive ini juga tersedia. Sangat tergantung dengan pergerakan nilai Dolar. Pejualan dengan garansi tiga tahun disertai dengan dukungan suku cadang,” jelas Harry Lo, Direktur Utama PT Offistarindo Adhiprima, Minggu (3/11) 

Ya, teknologi memang sangat mendukung proses belajar dan mengajar dikelas. Sehingga kegiatan belajar menjadi lebih menarik dan interaktif. Namun, mengingat wilayah indonesia yang belum merata dari segi pembangunan apakah untuk membuat suasana belajar menjadi menarik dan interaktif  hanya bisa dilakukan dengan menggunakan teknlogi yang modern?. Jawabannya tentu saja tidak, dalam proses belajar mengajar menjadi tanggung jawab dari seorang guru untuk membuatnya menjadi menarik dan interaktif baik dengan atau tanpa menggunakan teknologi yang modern. Semangat guru Indonesia J.

Sumber:

https://aspirasimu.wordpress.com/2012/07/04/pendidikan-di-3/

Flipped Learning

Kamis, 27 November 2014


Oleh :
Delfi Tri Andini      (06121411017)
Grestisia Gelara         (06121411006)
Rina Permatasari       (06121411001)

Saparingga                 (06101411033)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
Di era globalisai saat ini perkembangan teknologi informasi (TI) sangat pesat, yang menuntut manusia atau pengguna TI agar dapat mengikuti perkembanganya dalam memperoleh informasi yang terbaru. Informasi  dapat diperoleh dengan berbagai cara dan melalui bermacam media  cetak seperti buku, jurnal, majalah, koran, media elektronik seperti komputer, handphone, internet, ataupun media lainnya yg lebih mudah untuk dimengerti, sama halnya dengan dunia pendidikan membutuhkan informasi, maka metode pembelajaran yang terbaik untuk siswa/ siswi-nya, agar memperoleh hasil yang maksimal di masa depan kehidupan.
Pada umumnya setiap siswa siswi ingin mendapatkan informasi dengan cepat dan akurat serta meringankan tugas mereka untuk memperoleh nilai yang baik ataupun mendapatkan pengajaran tambahan agar lebih dikuasai. Sehingga kegiatan belajar mengajar untuk menghadapi siswa yang belum memahami materi yang diajarkan dan pertanyaan yang berulang-ulang/bergantian kepada guru di kelas, serta siswa yang tidak masuk menjadi tertinggalnya pelajaran, sehingga waktu guru habis untuk menerangkan ulang hal-hal yang belum dimengerti siswa dan update materi harus menunggu cetak buku/dvd  pada tahun berikutnya.
Pembuatan metode pembelajaran dibatasi menggunakan pembelajaran dengan metode flipped class room, e-Learning dan aplikasi-aplikasi android yang mendukung pembelajaran untuk siswa-siswi gunakan dimanapun dan kapanpun.
Berdasarkan kondisi atau analisis keadaan sekarang suatu lembaga pendidikan, pada umumnya menggunakan metode pembelajaran Ceramah yang dilakukan bersifat penjelasan langsung dikelas yang dilakukan oleh guru setiap pembelajaran dan murid hanya mendengarkan pada saat itu saja.
Kelemahan atau hambatan yang ditemukan adalah siswa –siswi yang ingin mendalami materi yang guru sudah berikan tidak ada lagi pengulangan kelas yang pembelajaran sama, kecuali mengikuti les atau kursus yang akhirnya terjadi pembengkakan biaya dan waktu.
Dengan adanya flipped classroom yang diberikan kepada siswa, maka siswa dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Kemudian pada saat siswa datang kesekolah siswa dan guru hanya mengembangkan diskusi dan prakrik pada saat disekolah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Flipped Learning?
2.      Bagaimana strategi dari Flipped Learning?
3.      Bagaimana langkah-langkah pembelajaran Flipped Classroom?
4.      Bagaimana teknis pelaksanaan model pembelajaran Flipped Classroom?
5.      Apakah kelebihan dari model pembelajaran Flipped Classroom?
6.      Apakah kelemahan dari model pembelajaran Flipped Classroom?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari Flipped Learning
2.      Memahami strategi model pembelajaran dari Flipped Learning
3.      Memahami langkah-langkah pembelajaran Flipped Learning?
4.      Memahami teknis pelaksanaan model pembelajaran Flipped Classroom
5.      Mengetahui kelebihan dari model pembelajaran Flipped Classroom
6.      Mengetahui kelemahan dari model pembelajaran Flipped Classroom






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian  Flipped Learning
jika di dalam kelas biasanya siswa belajar (mendapat materi dari guru) dan untuk di rumah biasanya siswa memperoleh PR. Akan tetapi, berbeda dengan flipped classroom. Dalam flipped classroom, siswa diminta untuk belajar mandiri di rumah mengenai materi untuk pertemuan berikutnya, dengan menonton video pembelajaran karya guru itu sendiri ataupun video pembelajaran dari hasil upload orang lain. Sedangkan pada saat di kelas, siswa diberikan sebuah permasalahan atau tugas, atau siswa bisa bertanya dan sharing seputar materi yang telah dipelajarinya di rumah.
Flipped classroom atau dikenal juga sebagai flipped teaching diterapkan di Amerika Serikat, pertama kali dikerjakan oleh Prof. Eric Mazur dari Harvard. Dia menemukan bahwa komputer dapat membantunya dalam mengajar perkuliahan. Dia menyimpulkan bahwa “Aku percaya bahwa kita baru saja melihat permulaan dari sebuah proses dan komputer akan segera menjadi bagian utuh dalam sebuah pendidikan. Komputer tidak akan menggantikan peran guru, tetapi akan bisa menyediakan bagi guru sebuah alat penting yang dinamis untuk memperbaiki kualitas pendidikan.”
J. Wesley Baker memperkenalkan tulisannya “The classroom flip : using web course management tools to become the guide by the side”. Di dalamnya Baker memperkenalkan model pembelajaran dimana para guru menggunakan web online dan program manajemen bahan ajar berbasis web sebagai alat untuk memberikan pembelajaran online sebagai “tugas rumah” untuk siswa. Sedangkan di kelas, para guru memiliki banyak waktu untuk mendalami kegiatan pembelajaran aktif dengan murid.

Flipped Learning adalah pendekatan pedagogic yang langsung bergerak dari pembelajaran kelompok, ke pembelajaran individu dan hasil dari ruang kelompok berubah menjadi dinamis, lingkungan pembelajaran interaktif  dimana pendidik memandu siswa sebagaimana mereka menggunakan konsep dan mengikutsertakan kreativitas didalam materi pembelajaran.
Menurut Amy Roehl dan Shweta Linga (2013) dalam jurnal internasional yang berjudul The Flipped Classroom: An Opportunity To Engage Millennial Students Through Active Learning Strategiesmenyimpulkan bahwa untuk memperkenalkan beberapa strategi baru yang ditransferkan dari pemikiran guru dan murid, guru harus melakukan penelitian dengan alternatif strategi dikelas. Sebagai instruktor yang akan menggunakan strategi baru, ini sangat penting dalam dunia pendidikan yang direfleksikan dalam pembelajaran yang efektif. Keaktifan belajar dan strategi pembelajaran flipped classroomyang menggunakan teknologi, murid-murid akan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka lebih tinggi.
Menurut Richard Pierce, EdD, and Jeremy Fox (2012) dalam American Journal of Pharmaceutical Education yang berjudul Instructional Design And Assessment Vodcasts And Active-Learning Exercises In A “Flipped Classroom” Model Of A Renal Pharmacotherapy Module menyimpulkan bahwa menerapkan model flipped classroom untuk pembelajaran modul farmakoterapi ginjal mengakibatkan kinerja siswa semakin meningkat dan persepsi siswa baik tentang pendekatan instruksional. Beberapa faktor yang mungkin telah berkontribusi terhadap peningkatan nilai siswa termasuk: siswa dimediasi kontak dengan materi kuliah sebelum di kelas, patokan dan penilaian formatif diberikan selama modul, dan kegiatan kelas berjalan interaktif interaktif.
Menurut Lius Tirtasanjaya dkk (2012) dalam jurnal internasional yang berjudul Assessing The Effectiveness of Flipped Classroom Pedagogy in Promoting Students’ Learning Experience dalam temuannya menunjukkan bahwa pelaksanaan model flipped classroom dalam lingkungan komputasi satu ke satu akan bernilai menjelajahi lebih lanjut. Lebih fokus dapat ditempatkan pada kelas kemampuan campuran dan  kemampuan yang lebih tinggi. Perancah dapat lebih disempurnakan baik untuk kegiatan rumah dan kegiatan kelas. Salah satu perbaikan yang mungkin termasuk membedakan pertanyaan membimbing digunakan dalam kegiatan rendah di bawah pertanyaan dalam taksonomi Bloom untuk kegiatan rumah dan pertanyaan tatanan yang lebih tinggi untuk kegiatan kelas.
Menurut Cara A. Marlowe (2012) dalam penelitiannya yang berjudulThe Effect Of The Flipped Classroom On Student Achievement And Stress menunjukkan bahwa efek dari flipped classroom dan diferensiasi terkait dipelajari untuk mengukur dampak pada prestasi siswa dan mahasiswa tingkat stres. Untuk semester kedua tahun senior mereka, siswa menonton video ceramah di luar kelas dan tugas diselesaikan selama waktu kelas. Siswa melaporkan tingkat stres yang lebih rendah dalam jenis lingkungan kelas dibandingkan dengan kelas-kelas lain. Sementara nilai semester menunjukkan perbaikan, nilai ujian tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Secara keseluruhan, perasaan positif siswa terhadap pengobatan dan menikmati manfaat yang terkait untuk bisa memilih tugas mereka sendiri dan mengeksplorasi konsep-konsep yang mereka temukan menarik lebih mendalam.
Flipped classroom adalah sebuah model pembelajaran di mana guru memberikan tugas / PR kepada siswa untuk aktif mempelajari terlebih dahulu materi yang akan disampaikan melalui media digital berupa video atau e-book beserta beberapa instruksi tugas / latihan soal, sebagai bahan diskusi ketika kegiatan di dalam kelas (tatap muka). 
Flipped Classroom adalah model pembelajaran yang “membalik” metode tradisional, di mana biasanya materi diberikan di kelas dan siswa mengerjakan tugas di rumah. Konsep Flipped Classroom mencakup active learning, keterlibatan siswa, dan podcasting. Dalam flipped classroom, materi terlebih dahulu diberikan melalui video pembelajaran yang harus ditonton siswa di rumah masing-masing. Sebaliknya, sesi belajar di kelas digunakan untuk diskusi kelompok dan mengerjakan tugas. Di sini, guru berperan sebagai pembina atau pemberi saran.


B.                 Strategi Flipped Learning
Menurut Graham Brent (2013) Flipped classroom merupakan strategi yang dapat diberikan oleh pendidik dengan cara meminimalkan jumlah instruksi langsung dalam praktek mengajar mereka sambil memaksimalkan interaksi satu sama lain. Strategi ini memanfaatkan teknologi yang menyediakan tambahan yang mendukung materi pembelajaran bagi siswa yang dapat diakses secara online. Hal ini membebaskan waktu kelas yang sebelumnya telah digunakan untuk pembelajaran.
Instruktur mengadopsi model flipped classroom untuk memberikan pembelajaran kelas atau konten instruksional sebagai pekerjaan rumah. Dalam persiapan untuk kelas, siswa diwajibkan untuk melihat video pembelajaran. Menurut Tucker dalam Amy Roehl (2013) siswa memanfaatkan waktu di kelas untuk bekerja menyelesaikan masalah, pengembangan konsep, dan terlibat dalam pembelajaran kolaboratif.

Sedangkan menurut Natalie (2012) Strategi flipped classroommendukung banyak manfaat. Sebagian besar tampaknya menjadi keuntungan yang masuk akal (misalnya meningkatkan waktu instruksi lebih menarik) terutama untuk mengajarkan mereka dalam pengaturan campuran yang terdiri dari beberapa kombinasi tatap muka dan instruksi online. Namun strategi ini juga memiliki keterbatasan. Pertama, kualitas video mungkin sangat buruk. Kedua, mengingat bahwa siswa dapat melihat video ceramah pada komputer mereka sendiri, kondisi di mana mereka kemungkinan melihat video ceramah menjadi pembelajaran yang tidak efektif (misalnya siswa bisa melihat video sambil menonton permainan baseball atau mendengarkan musik). Ketiga, siswa tidak menonton atau memahami video karena itu mereka tidak siap atau belum cukup siap untuk kegiatan tatap muka. Keempat, siswa mungkin perlu banyak penopang untuk memastikan mereka memahami materi yang disampaikan dalam video. Kelima, siswa tidak mampu mengajukan pertanyaan ke instruktur atau rekan-rekan mereka jika menonton video saja.
Walaupun ada banyak keterbatasan dengan strategi flipped classroom dan tidak ada penelitian empiris untuk mendukung penggunaannya, laporan anekdotal oleh banyak instruktur mempertahankan bahwa hal itu dapat digunakan sebagai strategi mengajar yang berharga pada setiap tingkat pendidikan, tergantung peserta didik, sumber daya, dan waktu seseorang. Apalagi tampaknya cocok untuk penegetahuan mengajar yang prosedural, salah satu dari empat jenis pengetahuan umum yang dijelaskan dalam Taksonomi Bloom yang telah diperbaiki menurut Anderson dkk dalam Natalie (2012). Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Oleh karena itu video ceramah flipped classroom tentang bagaimana memecahkan permasalahan dimana seorang instruktur menjelaskan dan model bagaimana memecahkan jenis masalah akan menjadi baik dalam penggunaan strategi ini. Pengetahuan prosedural yang kompleks juga dapat diajarkan menggunakan strategi flipped classroom meskipun penopang dan potongan konten akan sangat penting tidak hanya untuk memastikan bahwa video pendek, tetapi juga untuk memastikan bahwa semua langkah prosedur diperkenalkan memadai sehingga siswa benar-benar memahami.
Langkah – langkah pembelajaran flipped classroom adalah sebagai berikut :
1.      Sebelum tatap muka, siswa diminta untuk belajar mandiri di rumah mengenai materi untuk pertemuan berikutnya, dengan menonton video pembelajaran karya guru itu sendiri ataupun video pembelajaran dari hasil upload orang lain.
2.      Pada pembelajaran di kelas, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen.
3.      Peran guru pada saat kegiatan belajar berlangsung adalah memfasilitasi berlangsungnya diskusi dengan metode kooperatif learning. Di samping itu, guru juga akan menyiapkan beberapa pertanyaan (soal) dari materi tersebut.

Guru memberikan kuis/tes sehingga siswa sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya permainan, tetapi merupakan proses belajar, serta guru berlaku sebagai fasilitator dalam membantu siswa dalam pembelajaran serta menyelesaikan soal soal yang berhubungan dengan materi

 Teknis pelaksanaan model pembelajaran flipped classroom ini adalah :
1.       Guru menyiapkan dan memberikan sebuah media (bisa berupa video pembelajaran / digital book) yang akan ditonton dan dipelajari oleh siswa di rumah.
2.       Siswa menonton video dan mempelajari instruksi yang diberikan oleh guru melalui video tersebut agar terlebih dahulu mengenal konsep dan materi yang akan diberikan pada pertemuan selanjutnya.
3.       Di dalam kelas, siswa mengerjakan tugas berdasarkan instruksi yang telah disampaikan sebelumnya (melalui video). Dalam hal ini siswa dapat lebih memfokuskan diri pada kesulitannya dalam memahami materi ataupun kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal berhubungan dengan materi tersebut.
4.       Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa dalam mengerjakan tugas tersebut.

Model pembelajaran flipped classroom ini terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan keaktifan siswa pada sebuah proses pembelajaran. Model pembelajaran ini juga sangat bermanfaat untuk kepada guru dan siswa, karena :
1.                  Siswa memiliki kesempatan penuh untuk mengejakan tugas mereka dengan didampingi oleh gurunya.
2.                  Guru dapat memastikan bahwa setiap siswa telah memahami konsep-konsep / materi yang disampaikan sebelum pindah ke materi berikutnya.
3.                  Siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk berkolaborasi, berbagi ide dan projek bersama temannya.
4.                  Guru dengan mudah memiliki kesempatan untuk meninjau kembali rencana pembelajaran yang telah dilakukan. Sedangkan siswa dapat dengan mudah mempelajari kembali video pembelajaran setiap saat, terutama bagi siswa yang absen (tidak masuk sekolah).
5.                  Terjalin komunikasi yang baik antara guru dan siswa.
Meski begitu, tidak mudah untuk menerapkan dan membiasakan siswa mengikuti aturan model pembelajaran flipped classroom ini. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubah model belajar siswa yang sudah terbiasa menunggu guru memberikan materi (Bc. berceramah) di depan kelas. Sedangkan bagi guru, butuh kemampuan untuk menciptakan sebuah media digital yang akan diakses siswa melalui model pembelajaran ini.
Berikut beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh guru dan siswa sebelum melaksanakan model pembelajaran ini :
1.                  Sebuah video pembelajaran maupun e-book beserta tugas (kuis/project) yang akan dipelajari siswa.
2.                  Perangkat komputer (PC/Laptop) sebagai media yang akan digunakan untuk mengakses video pembelajaran.
3.                  Koneksi internet yang memadai (jika menggunakan video streaming). Sebenarnya koneksi internet ini tidak mutlak diperlukan, jika video pembelajaran diakses secara offline. Hal ini dapat dilakukan dengan cara guru memberikan file video pada akhir kelas untuk dipelajari di rumah.
4.                  Kemampuan di bidang TIK. Kemampuan di bidang ini mutlak dibutuhkan, terutama kemampuan guru dalam membuat video pembelajaran, dan membuat soal-soal interaktif untuk mendukung materi yang disampaikan. Jika tidak, guru dapat juga memanfaatkan video serupa yang ada di youtube. Sedangkan siswa juga harus memiliki kemampuan untuk mengoperasikan komputer PC/Laptop guna mengakses video tersebut.
Hal yang paling penting dari semuanya adalah menyiapkan mental siswa kita supaya dapat menerima dan melaksanakan model pembelajaran ini dengan baik. Sehingga mereka merasa nyaman dan terbiasa belajar aktif untuk mengembangkan daya kritis mereka dalam menyerap materi pelajaran.
Flipped Classroom merupakan model pembelajaran yang berbeda dengan yang biasa dilakukan guru di kelas. Biasanya guru menjelaskan terlebih dahulu, baru kemudian memberikan tugas, PR, dsb. Di dalam flipped learning, seperti dalam video tersebut, kegiatan pertama yang dilakukan siswa adalah mempelajari materi yang diberikan guru melalui video pembelajaran di rumah. Di rumah ? Yup ! Berarti guru harus terlebih dahulu membuat persiapan “bekal” yang akan diperlukan siswa di rumah. Pembelajaran dengan video ini dengan maksud agar siswa terlebih dahulu mempelajari bagaimana materi pelajaran yang akan didiskusikan di kelas. Di kelas keesokan harinya, guru tidak lagi menjadi “pengajar”, namun guru lebih berperan sebagai pembina dan pemberi saran. Siswa akan mengerjakan tugas dan mendiskusikannya dalam kelompok.
Tampak pula bahwa guru dan siswa bisa saling berinteraksi dalam jejaring sosial khusus, dalam hal ini bisa menggunakan Edmodo atau Moodle yang biasa dipakai dalam interaksi belajar dalam komunitas pelajar.
Membaca-baca lagi referensi tentang kelas terbalik, flipped classroom. Ternyata beberapa referensi mengatakan bahwa flipped classroom itu adalah pembelajaran terbalik dengan cara membalikkan kebiasaan ketika guru menerangkan kemudian memberi tugas. Dibalik deh menjadi beri tugas dulu, baru terangkan. Dengan begitu, siswa akan berbekal banyak pertanyaan yang dia jumpai di lapangannya sendiri. Semisal, saya memberikan tugas membuat blog kepada mereka. Tanpa saya ajarkan terlebih dahulu loh. Nah, tanpa “ilmu ” yang diberikan sebagai bekal ini lalu mengharuskan siswa mencari pengetahuan sendiri. Caranya tentu saja mereka harus akrab dengan google dan mesin pencari lainnya. Artinya, pengetahuan-pengetahuan via internet ini sudah harus biasa dicari oleh siswa. Ini juga yang menjadi salah satu ciri flipped classroom
Kemudian, di hari bertemu di kelas, siswa membawa permasalahan masing-masing dan bisa share satu dengan yang lainnya. Mereka mencari pengetahuan dan menemukannya sendiri. Itu beda banget loh rasanya dibanding guru menjelaskan sendiri di depan kelas. Kalau cara begitu, itu sudah sangat biasa. Nah. pertemuan tatap muka dan tidak (offline) ini juga yang menjadi salah satu contoh flipped classroom. Flipped classroom ini merupakan salah satu model pembelajaran abad 21 loh teman-teman. Dimana pendekatan yang dipakai lebih kepada student centered. 
Model pembelajaran terbalik ini cocok sekali dipergunakan oleh guru yang merasa jam pelajarannya selalu kurang. Kadang kurangnya jam pelajaran dalam mengajar membuat materi pembelajaran tidak tuntas terselesaikan. 
Secara garis besar, model pembelajaran ini juga sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, karena :
  • Siswa memiliki kesempatan penuh untuk mengejakan tugas mereka dengan didampingi oleh gurunya.
  • Guru dapat memastikan bahwa setiap siswa telah memahami konsep-konsep / materi yang disampaikan sebelum pindah ke materi berikutnya.
  • Siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk berkolaborasi, berbagi ide dan projek bersama temannya.
  • Guru dengan mudah memiliki kesempatan untuk meninjau kembali rencana pembelajaran yang telah dilakukan. Sedangkan siswa dapat dengan mudah mempelajari kembali video pembelajaran setiap saat, terutama bagi siswa yang absen (tidak masuk sekolah).
  • Terjalin komunikasi yang baik antara guru dan siswa.


C.     Kelebihan dan Kekurangan Flipped Learning
Penerapan model flipped classroom memiliki banyak keuntungan dibandingkan model pembelajaran tradisional. Tersedianya materi dalam bentuk video memberikan kebebasan pada siswa untuk menghentikan atau mengulang materi kapan saja di bagian-bagian yang kurang mereka pahami. Selain itu, pemanfaatan sesi belajar di kelas untuk proyek atau tugas kelompok mempermudah siswa untuk saling berinteraksi dan belajar satu sama lain.
Namun, meski memiliki banyak kelebihan, flipped classroom membutuhkan persiapan matang agar dapat berjalan dengan optimal. Guru tentunya harus membuat video pembelajaran yang menarik, berkualitas, serta dapat dipahami siswa tanpa tatap muka secara langsung; sementara siswa, di sisi lain, harus memiliki akses terhadap koneksi internet.

1.      Bagi Siswa :
a.       Siswa (dipaksa) memiliki waktu untuk mempelajari materi pelajaran di rumah sebelum guru menyampaikannya di kelas. Dengan demikian, siswa lebih mandiri dan tidak lagi hanya menunggu guru menyampaikan materi pelajarannya di kelas.
b.      Siswa dapat mempelajari materi pelajaran dalam kondisi dan suasana yang nyaman sesuai dengan kemampuannya menerima materi. Siswa yang pintar dapat belajar secara cepat, sedangkan bagi siswa yang kurang mampu, mereka dapat mengulang materi pelajaran (video) sesukanya sampai mereka faham.
c.       Setiap siswa bisa mendapatkan perhatian penuh dari guru saat mengalami kesulitan dalam memahami konsep maupun tugas/latihan/kuis. Hal ini dikarenakan di dalam kelas, guru hanya membahas (mereview) materi-materi yang menurut siswa sulit (saja). Atau, guru bisa meminta siswa yang sudah memahami materi, untuk membantu temannya yang belum faham. Dengan demikian dapat dipastikan setiap siswa telah memahami materi dengan baik.
d.      Siswa dapat belajar dari berbagai jenis konten pembelajaran baik melalui video, website, aplikasi mobile atau jenis konten yang lain. Hal ini memudahkan siswa memahami materi pelajaran, dari pada siswa hanya belajar dari papan tulis atau buku.

2.      Bagi guru :
a.       Lebih efektif, karena materi disajikan dalam bentuk video, sehingga bisa digunakan berulang-ulang pada kelas yang lain.
b.      Hemat waktu, karena guru tidak harus menjelaskan semua materi pelajaran, akan tetapi hanya bagian-bagian tertentu yang dianggap sulit oleh siswa.
c.       Guru termotivasi untuk mempersiapkan materi pelajaran dalam berbagai jenis konten, baik berupa video, website, aplikasi mobile atau jenis konten yang lain. Sehingga pelaksanaan pembelajaran lebih terencana dan tertata dengan baik.
d.      Guru semakin kreatif dalam membuat modul pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi yang memudahkan siswa dalam memahami konsep.
e.       Terjalin komunikasi yang aktif antara guru dan siswa, karena pembelajaran di kelas lebih banyak dilakukan dengan berdiskusi (tanya jawab) di antara mereka.

Kelemahan Flipped classroom
Meski banyak keuntungan yang didapat dari pelaksanaan model pembelajaran flipped classroom, namun tetap saja ada kekurangannya, diantaranya adalah :
1.      Tidak semua siswa/guru/sekolah memiliki akses terhadap perangkat teknologi informasi yang dibutuhkan, seperti komputer/laptop dan koneksi internet.
2.      Tidak semua siswa merasa nyaman belajar di depan komputer/laptop. Padahal untuk melaksanakan model pembelajaran ini, siswa harus mengakses materi melalui perangkat tersebut.
3.      Tidak semua siswa memiliki motivasi untuk belajar secara mandiri di rumah. Apalagi terhadap materi yang belum disampaikan oleh guru. Sehingga motivasi dari guru selalu dibutuhkan, agar siswa terbiasa mempelajari materi pelajaran secara mandiri, sebelum materi tersebut disampaikan oleh guru di kelas.
4.      Butuh waktu lama bagi guru untuk mempersiapkan materi dalam bentuk video, terutama guru yang belum terbiasa membuat video pembelajaran.

Selain itu, flipped classroom juga memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut
Kelebihan flipped classroom, yaitu :

1.      Siswa dapat mengulang-ulang video tersebut hingga ia benar-benar paham materi, tidak seperti pada pembelajaran biasa, apabila murid kurang mengerti maka guru harus menjelaskan lagi hingga siswa dapat mengerti sehingga kurang efisien.
2.      Siswa dapat mengakses video tersebut dari manapun asalkan memiliki koneksi internet yang cukup, bahkan bisa didownload dan lebih puas untuk menontonnya berulang-ulang.
3.      Efisien, karena siswa diminta untuk mempelajari materi di rumah dan pada saat di kelas, siswa dapat lebih memfokuskan kepada kesulitannya dalam memahami materi ataupun kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal berhubungan dengan materi tersebut.

Kekurangan flipped classroom, yaitu :

1.      Untuk menonton video, setidaknya diperlukan satu unit computer atau laptop. Hal ini akan menyulitkan siswa yang tidak memiliki komputer/laptop, mereka harus ke warnet untuk mengakses video tersebut.
2.      Diperlukan koneksi internet yang lumayan bagus untuk mengakses video tersebut. Terutama di Indonesia yang koneksi internetnya memasuki daftar lambat, terutama apabila filenya berukuran besar, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka atau mengunduhnya. Ada cukup banyak siswa yang gaptek sehingga mereka memerlukan waktu yang lebih untuk mengakses video tersebut.
3.      Siswa mungkin perlu banyak penopang untuk memastikan mereka memahami materi yang disampaikan dalam video dan siswa tidak mampu mengajukan pertanyaan ke instruktur atau rekan-rekan mereka jika menonton video saja.
4.      Dalam implementasiny di Indonesia, flipped classroom hanya bisa diterapkan di sekolah yang siswanya sudah memiliki sarana dan prasarana yang sudah memadai mengingat pada strategi ini menuntut siswa untuk menonton video tutorial di rumah.

D.    Langkah – langkah pembelajaran flipped classroom adalah sebagai berikut :

1.      Sebelum tatap muka, siswa diminta untuk belajar mandiri di rumah mengenai materi untuk pertemuan berikutnya, dengan menonton video pembelajaran karya guru itu sendiri ataupun video pembelajaran dari hasil upload orang lain.
2.      Pada pembelajaran di kelas, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen.
3.      Peran guru pada saat kegiatan belajar berlangsung adalah memfasilitasi berlangsungnya diskusi dengan metode kooperatif learning. Di samping itu, guru juga akan menyiapkan beberapa pertanyaan (soal) dari materi tersebut.
4.      Guru memberikan kuis/tes sehingga siswa sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya permainan, tetapi merupakan proses belajar, serta guru berlaku sebagai fasilitator dalam membantu siswa dalam pembelajaran serta menyelesaikan soal soal yang berhubungan dengan materi.

Dari kelebihan dan kekurangan flipped classrom di atas, memang tidak mudah, bahkan butuh waktu untuk menyiapkan materi pembelajaran (video) dan menerapkannya di dalam kelas kita. Namun, tidak ada salahnya jika kita mulai mencoba menerapkan model pembelajaran ini, agar supaya siswa terbiasa dan tertantang untuk mempelajari sesuatu yang baru secara mandiri agar prestasi belajar semakin meningkat.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Flipped Classroom adalah model pembelajaran yang “membalik” metode tradisional, di mana biasanya materi diberikan di kelas dan siswa mengerjakan tugas di rumah. Pada metode ini,materi diberikan dirumah dan siswa mengerjakan tugas disekolah.
Flipped learning menggunakan TIK sebagai sarana pemberian materi, oleh karena itu sarana dan prasaranalah yang menjadi kendala dalam pelaksanaan flipped classroom ini. memang tidak mudah, bahkan butuh waktu untuk menyiapkan materi pembelajaran (video) dan menerapkannya di dalam kelas kita. Namun, tidak ada salahnya jika kita mulai mencoba menerapkan model pembelajaran ini, agar supaya siswa terbiasa dan tertantang untuk mempelajari sesuatu yang baru secara mandiri agar prestasi belajar semakin meningkat.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2013.Flipped Classroom Merenovasi Model Pembelajaran Tradisional. http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/10/flipped-classroom-merenovasi-model-pembelajaran-tradisional-582805.html (diakses pada tanggal 12 September 2014)
Anonim.2013.Benefits Of The Flipped Classroom.http://www.faronics.com/news/blog/4-benefits-of-the-flipped-classroom/ (diakses pada tanggal 12 September 2014)
B. Milman, Natalie. 2012. The Flipped Classroom Strategy What is it and How Can it Best be Used?. Jurnal Internasional Volume 9, Issue 3 : The George Washington University.
Cara A. Marlowe. 2012.  The Effect Of The Flipped Classroom On Student Achievement And Stress. Montana: Montana State University.
Johnson, Graham Brent. 2013. Student Perceptions Of The Flipped Classroom. Columbia: The University Of British Columbia.
Lioe, Luis Tirtasanjaya, Teo Chin Wen, dkk. 2012. Assessing the effectiveness of flipped classroom pedagogy in promoting students’ learning experience. NYGH Research Journal.
Neni.2013.Flipped Classroom Untuk Guru.http://nenyjos.blogspot.com/2013/08/flipped-classroom-untuk-guru-yang.html (diakses pada tanggal 12 September 2014)
Pierce, Richard EdD and Jeremy Fox, PharmD. 2012. Instructional Design And Assessmentvodcasts And Active-Learning Exercises In A “Flipped Classroom” Model Of A Renal Pharmacotherapy Module. American Journal of Pharmaceutical Education 2012; 76 (10) Article 196.
Roehl, Amy, Shweta Linga dkk. 2013. The Flipped Classroom: An Opportunity To Engage Millennial Students Through Active Learning Strategies. Texas : Christian University Jurnal Internasional Vol. 105. No. 2. 2013 JFCS.
Shimamoto, Dean N. 2012. Implementing a Flipped Classroom: An Instructional Module. Hawai Amerika Serikat: Department of Educational Technology University of Hawaii Manoa.

Guru TIK dan kurikulum 2013

Jumat, 26 September 2014


Penerapan kurikulum 2013 sudah tidak asing lagi diperbincangkan khalayak umum, terutama kalangan pendidik. Dalam kurikulim 2013 ini saya pribadi sering mendengar bahwa mata pelajaran TIK dihilangkan dan diintegrasikan kedalam seluruh mata pelajaran. Lantas, bagaimana nasib uru-guru TIK? dan apakah tugas mereka?.

Berikut mimin sudah mengutip dari beberapa sumber mengenai masalah ini
dari solopos.com dengan judul  "Wamendikbud: Guru TIK Tidak Akan Dirugikan" 
(http://www.solopos.com/2014/03/23/penerapan-kurikulum-2013-wamendikbud-guru-tik-tidak-akan-dirugikan-497987). diterangkan bahwa

Guru Teknik Informatika dan Komputer (TIK) dijamin tetap dibutuhkan pada penerapan kurikulum 2013. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud), Musliar Kasim, Sabtu (22/3/2014).
“Kami ingin menggaris bawahi, tidak satupun orang akan dirugikan dalam penerapan kurikulum 2013 ini,” ungkap dia menjawab pertanyaan peserta seminar nasional pendidikan dengan tema Pembelajaran Berbasis Kreativitas Sebagai Tren Implementasi Kurikulum 2013 dalam Rangka Mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045 yang digelas di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Sabtu, mengenai nasib guru TIK. Seperti diketahui, dalam penerapan kurikulum 2013, mata pelajaran TIK tidak berdiri sendiri. Melainkan diintegrasikan dengan mata pelajaran lainnya.
Menurut Musliar, peranan guru TIK juga sama pentingnya dengan guru-guru lainnya. Sebab TIK sudah menjadi seperti alat pembelajaran. Dimana siswa harus memahami TIK untuk mengikuti proses belajar. Musliar memberikan contoh ketika ada guru yang menginstruksikan kepada siswanya untuk mencari materi pembelajaran di internet. Ada kemungkinan tidak semua siswa sudah mengerti bagaimana cara penggunaan internet yang benar. Maka di situlah peran dari guru TIK ke depan.
“Dia akan berada di dalam lab, mengajarkan kepada siswa. Tidak perlu 24 jam dia mengajar. Dianggap seperti guru BK, satu guru BK itu melayani 150 anak. Bahkan bukan hanya murid, tapi juga guru,” ujar dia.
Musliar juga mengatakan, penerapan kurikulum 2013 tidak akan mempengaruhi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang membuka program studi Pendidikan TIK (PTIK). Menurutnya, lulusan PTIK masih memiliki peluang banyak, terutama di SMK. “Masih terbuka peluang untuk SMK,” ujar dia.
Nah berdasarkan artikel solo pos ini sudah jelas bukan bahwa guru TIK tidak akan dirugikan. malah guru TIK akan sangat dibutuhkan untuk membantu siswa dan murid dalam menggunakan TIK sebagai sarana belajarnya. selain itu, ini cuma menurut saya yang masih belajar dan belum banyak taunya nih ya gan (hehe) guru-guru sekarang juga belum terlalu mengasai TIK apalagi yang sudah memiliki karir panjang alias sudah berumur kebanyakan belum terlalu menguasai teknologi, jadi menurut mimin guru TIK bisa menjadi tempat belajar yang baik bukan :)
Terus adakah peraturan mentri yang mengatur mengenai guru TIK dalam implementasi kurikulum 2013 ini?
nih dia cekitdot (lagi-lagi mimin ambil dari sumber lain, takut salah gan hehe)
kali ini mimin ambil dari fxekobudi.com (http://fxekobudi.net/tik-di-sekolah/permen-guru-tik-dan-kkpi-dalam-implementasi-kurikulum-2013/) dengan judul  " Permeb Guru TIK dan  KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013).
peran guru TIK dan KKPI menjadi lebih jelas di Kurikulum 2013 dengan disahkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2014 Tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi dalam Implementasi Kurikulum 2013. Berikut adalah cuplikan dokumen Permen guru TIK dan KKPI tersebut:
BAB III
PERAN, KEWAJIBAN, DAN HAK
Pasal 3
(1) Guru TIK dan guru KKPI dalam pelaksanaan kurikulum 2013 difungsikan menjadi Guru TIK.
(2) Guru TIK berperan sebagai berikut:
1.    membimbing peserta didik pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat untuk mencapai standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah.
2.    memfasilitasi sesama guru pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat dalam menggunakan TIK untuk persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah; dan
3.    memfasilitasi tenaga kependidikan pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat dalam mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis TIK.

Pasal 4
(1) Guru TIK berkewajiban:
1.    membimbing peserta didik SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat untuk mencari, mengolah, menyimpan, menyajikan, serta menyebarkan data dan informasi dalam berbagai cara untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran;
2.    memfasilitasi sesama guru SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat untuk mencari, mengolah, menyimpan, menyajikan, serta menyebarkan data dan informasi dalam berbagai cara untuk persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran; dan
3.    memfasilitasi tenaga kependidikan SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat untuk mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis TIK.
(2) Beban kerja guru TIK melakukan pembimbingan paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada 1 (satu) atau lebih satuan pendidikan.
(3) Bimbingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan secara:
1.    klasikal atau kelompok belajar; dan/atau
2.    individual.

Pasal 5

Guru TIK sebagaimana dimaksud Pasal 2 dan telah melaksanakan beban dan kewajiban kerja berhak mendapatkan tunjangan profesi pendidik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

BAB IV
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Pasal 6

(1) Guru TIK memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pembimbingan dan pelayanan TIK terhadap peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan.
(2) Guru TIK melaksanakan layanan bimbingan TIK kepada peserta didik pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat dalam rangka:
1.    mencari, mengolah, menyimpan, menyajikan, serta menyebarkan data dan informasi dalam rangka untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran; dan
2.    pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah dengan memanfaatkan TIK sebagai sarana untuk mengeksplorasi sumber belajar.
(3) Guru TIK melaksanakan layanan bimbingan TIK kepada sesama guru pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat dalam rangka:
1.    pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran;
2.    persiapan pembelajaran;
3.    proses pembelajaran;
4.    penilaian pembelajaran; dan
5.    pelaporan hasil belajar.
(4) Guru TIK melaksanakan fasilitasi kepada tenaga kependidikan pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau yang sederajat dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem manajemen sekolah.

Pasal 7

Rincian kegiatan guru TIK dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai berikut:
1.    menyusun rancangan pelaksanaan layanan dan bimbingan TIK;
2.    melaksanakan layanan dan bimbingan TIK per tahun;
3.    menyusun alat ukur/lembar kerja program layanan dan bimbingan TIK;
4.    mengevaluasi proses dan hasil layanan dan bimbingan TIK;
5.    menganalisis hasil layanan dan bimbingan TIK;
6.    melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi dengan memperbaiki layanan dan bimbingan TIK;
7.    menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional;
8.    membimbing peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler ;
9.    membimbing guru dalam penggunaan TIK;
10.     membimbing tenaga kependidikan dalam penggunaan TIK;
11.      melaksanakan pengembangan diri; dan
12.        melaksanakan publikasi ilmiah dan/atau membuat karya inovatif.